Alkitab di Dunia Modern

PASAL I: LATARBELAKANG SITUASI MASA KINI

I. KONSENSUS PADA PERIODE SESUDAH PERANG

Pada tahun-tahun sesudah perang dunia II, peranan Alkitab dalam iman dan teologia Kristen dinilai tinggi sekali, bahkan selama satu abad lebih sebelumnya, tidak pernah Alkitab mendapat penilaian yang begitu tinggi. Sebagian besar dari pada anggota-anggota Gereja dan dari pada kaum Teolog pada periode itu agaknya sependapat bahwa peranan Alkitab adalah mutlak penting, sehingga kalau Alkitab diabaikan, pastilah gereja dan iman kristen mengalami kecelakaan. Kedudukan Alkitab yang tinggi itu diakui oleh para teolog dan tercermin secara praktis dalam kehidupan jemaat-jemaat.

1. Gerakan Neo-orthodox

Teologia pada waktu itu umumnya secara kuat menekankan Alkitab. Penekanan tersebut menonjol dalam gerakan yang sering disebut gerakan "neo-orthodox," yang dipelopori oleh Karl Barth. Gerakan neo-orthodox itu mulai segera setelah perang dunia I dan begitu berkembang, sehingga pada akhir perang dunia II, sudah berpengaruh sekali. Titik penekanannya adalah pada isi Alkitab. Bahan pergumulannya ialah Allah Alkitab, Allah yang menyatakan Diri sebagaimana Dia berada, Allah orang Israel, konsep-konsep dan pemikiran Alkitab. Dengan penekanan-penekanan yang demikian, gerakan neo-orthodox itu kembali kepada prinsip-prinsip Reformasi yang sangat dihormatinya. Gerakan baru itu menolak pola-pola teologia yang disebut "liberal." Alasannya ialah bahwa: teologia liberal itu merupakan usaha manusiawi, yang menjadikan Allah serupa dan segambar dengan manusia, serta memberikan penekanan yang kuat sekali kepada kebudayaan manusia, hakekat manusia, dan cara berpikir manusia. Gerakan neo-orthodox itu menekankan bahwa iman mulai dengan Allah yang bersabda, dan Alkitablah yang menyaksikan Allah itu. Ada banyak orang, terutama di kalangan-kalangan yang berbahasa Inggris, yang tidak dapat menyetujui argumentasi-argumentasi khas yang dikemukakan teolog-teolog seperti Barth. Pengaruh gerakan neo-orthodox itu tidak nampak dalam bentuk konkrit dan agak bersifat umum, namun cukup besar juga. Atau mungkin lebih tepat kalau kita berbicara bukan tentang pengaruh ke-neo-orthodox-an itu pada teologia secara keseluruhan, melainkan bahwa ke-neo-orthodox-an itu merupakan suatu gejala khas dari pada kecenderungan yang tersebar luas di seluruh bidang teologia.

2. Ditekankannya Alkitab di luar gerakan neo-orthodox

Ada alihan-aliran teologis yang lain-lain lagi yang memang tidak menyetujui pendapat-pendapat khas yang berlaku di kalangan neo-orthodox, namun merekapun makin lama makin mendekati Alkitab, makin bersandar pada isi Alkitab, makin menekankan Alkitab dan kekhasannya. Nampaklah pada waktu itu suatu hasrat untuk mengutamakan "pernyataan Allah" dan sejajar dengan penekanan itu suatu sikap peremehan terhadap "teologia alamiah" (natural teology) atau "agama alamiah" atau bahkan terhadap "agama" begitu saja. Telah menjadi suatu mode untuk menggariskan kontras antara pemikiran Alkitab (yang dinilai teologis positif) dengan cara-cara berpikir yang dianggap saingan, misalnya cara berpikir Yunani dan filosofis (yang dalam perbandingan dengan Alkitab dinilai negatif). Memang patut dicatat juga bahwa selalu ada suara-suara yang mengkritik kecenderungan-kecenderungan tersebut, namun harus diakui bahwa kecenderungan-kecenderungan itu kuat sekali, sehingga orang-orang yang menentangnya sering merasa terdesak.

3. Akibat-akibat gerakan kritik-historis

Sejajar dengan perkembangan-perkembangan itu, beberapa problema yang sulit mengenai Alkitab, yang sudah mengganggu gereja-gereja, dan terutama gereja-gereja Protestan, selama lebih dari satu abad, agaknya sudah hampir dapat dipecahkan. Selama satu abad lebih, ahli-ahli Alkitab sudah biasa menggunakan metode-metode historis-kritis dalam menyelidiki kitab-kitab dalam Alkitab. Maka penggunaan metode-metode tersebut telah sangat mempengaruhi penilaian yang lazim diberikan kepada kitab-kitab tersebut. Dengan mengenakan metode-metode historis-kritis kepada bagian-bagian Alkitab seperti yang dikenakan kepada kesusasteraan kuna atau karangan-karangan sejarah yang kuna, para ahli telah sampai kepada kesimpulan-kesimpulan sbb.:

1. Banyak kitab-kitab dalam Alkitab sebenarnya tidak dikarang oleh oknum yang secara tradisionil dianggap pengarangnya.
2. Kemungkinan ada bahwa kitab-kitab tersebut terdiri dari berbagai lapis bahan yang berasal dari berbagai periode, dan yang disusun menjadi satu oleh redaktor pada akhir proses yang panjang.
3. Diakui bahwa kitab-kitab tersebut mungkin mengandung unsur-unsur mitologis atau legenda-legenda historis, sehingga sejarah jaman kuna yang melatar-belakangi kitab-kitab Alkitab itu harus direkonstruksikan, dan tidak dapat diambil begitu saja dari naskah Alkitab sendiri.

Kesimpulan-kesimpulan yang bersifat kritis seperti itu menyebabkan retak-retak yang cukup mendalam dalam tubuh gereja Protestan. Kaum konservatif berpendapat bahwa kesimpulan-kesimpulan yang demikian itu membahayakan atau menyangkali sentralitas dan kewibawaan Alkitab di dalam gereja. Kalau harus diakui bahwa ada ketidaktelitian atau ketidaktepatan historis di dalam Alkitab, bagaimanakah Alkitab masih dapat dianggap teliti dan tepat secara teologis? Di pihak lain, jenis-jenis teologia yang bercorak liberal tidak lagi bersandar mutlak pada Alkitab, melainkan cenderung untuk menggunakannya secara selektif. Sedangkan golongan yang lain lagi, yaitu ahli-ahli sejarah agama Alkitab, nampaknya meneruskan tugas-analisanya dengan seolah-olah tidak peduli akan berita Alkitab secara keseluruhan, dan seolah-olah tidak mempunyai suatu pandangan poositif tentang pentingnya Alkitab atau kewibawaannya. Keretakan-keretakan dalam gereja Protestan yang terjadi demikian, yaitu antara kaum konservatif yang bersandar pada Alkitab dan kaum liberal yang mencita-citakan pandangan yang lebih luas, telah lama menyebabkan kesengsaraan yang pedih di tengah-tengah umat Kristen.

4. Ciri-ciri keneo-orthodoxan

a. Unsur polemik terhadap fundamentalisme

Tetapi menjelang akhir perang dunia II, ada kesan bahwa kesulitan-kesulitan itu sudah mulai teratasi. Penekanan pada Alkitab yang menjadi ciri-khas dari pada teologia baru itu, tidaklah identik dengan fundamentalisme atau obskurantisme. Sebaliknya teologia neo-orthodox itu dianggap oleh penganut-penganutnya sebagai teologia yang sesuai dengan metode-metode research yang modern, yaitu penelitian historis. Bahkan gerakan baru yang kembali menekankan kewibawaan Alkitab ini justeru mengandung suatu polemik terhadap fundamentalisme, terhadap konservatisme yang bersifat biblisistik. Karena gerakan neo-orthodox itu beranggapan bahwa kaum fundamentalis memanglah mempertahankan konsep kewibawaan Alkitab secara lahiriah, namun gagal dalam menyadari dan meresapi logika-intern dari pada Alkitab sendiri. Jadi sejajar dengan pengritikannya terhadap teologia liberal yang telah mendahuluinya, gerakan neo-orthodox itu bercita-cita untuk menghargai kewibawaan Alkitab sambil mengaku-sah pendekatan kritis terhadap Alkitab. Sikap berpegang kepada Alkitab dianggap bukan sikap yang kolot, melainkan justeru sikap yang baru yang membebaskan, malah yang revolusioner.

b. Alkitab dipandang sebagai keseluruhan

Salah satu aspek dari cara-berpikir pada periode sesudah perang, ialah desakannya bahwa Alkitab dapat dan bahkan harus didekati secara keseluruhan. Penekanan yang demikian merupakan reaksi terhadap teologia liberal, yang sering memberi kesan seolah-olah memutlakkan satu unsur dari isi Alkitab. Misalnya, gambaran Yesus dalam Injil-injil Sinoptis (atau bagian-bagian tertentu dari gambar tersebut) dianggap definitif; selanjutnya gambar sinoptis yang dimutlakkan itu dipertentangkan dengan gambar Yesus menurut Paulus. Atau (contoh lain) dipertentangkan antara Allah Perjanjian Lama dengan Allah Perjanjian Baru. Ditekankannya Alkitab sebagai keseluruhan juga merupakan protes terhadap metode para pengritik yang menekankan analisa melulu. Memang, kata kaum neo-orthodox, Alkitab dapat dibagi-bagi menurut sumber-sumbernya. Tetapi sesudah tugas analisa itu dikerjakan, apakah tidak dapat dikatakan sesuatupun tentang makna Alkitab sebagai keseluruhan? Diakui adanya perbedaan-perbedaan historis dan keanekaragaman penekanan-penekanan di dalam keseluruhan Alkitab itu. Tetapi menurut kaum neo-orthodox, suara-suara yang berlain-iainan itu merupakan suatu paduan suara yang harmonis. Alkitab berpengaruh terhadap iman Kristen bukan hanya melalui bagian ini atau bagian itu, melainkan juga berbicara melalui interelasi antara semua bagian yang terdapat dalam Alkitab itu. Contoh yang paling menyolok ialah: adalah merupakan aksioma, menurut kaum neo-orthodox, bahwa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru bersama merupakan suatu kesatuan. Oleh karena itu, kaum neoorthodox mengecam kecenderungan teologia liberal untuk mengabaikan Perjanjian Lama. Ditekankan bahwa cara berpikir orang Ibrani tidak hanya menjiwai seluruh Perjanjian Lama, melainkan mewarnai Perjanjian Baru juga. Bahkan ada yang mengatakan bahwa cara berpikir Ibrani itu justeru merupakan kunci yang membuka pengertian Perjanjian Baru. Kaum neo-orthodox menekankan bahwa Perjanjian Baru itu dapat disalah-mengerti sama sekali kalau dibaca dengan bantuan kategori-kategori Yunani yang laku pada abad yang pertama Masehi. Hanya jikalau orang membaca Perjanjian Baru menurut kategori-kategori Ibrani, dapatlah diperoleh pengertian yang sah. Pendek kata, keyakinan akan kesatuan Alkitab mendapat perhatian yang lebih besar, dibandingkan dengan yang lazim selama puluhan tahun sebelumnya. Analisa-analisa yang telah dibuat oleh para pengritik Alkitab telah merobohkan harmonisasi-harmonisasi yang kuna dan telah menyatakan keanekaragaman sumber-sumber Alkitab, baik dalam hal ketelitian historis, maupun dalam hal penekanan-penekanan teologisnya. Maka oleh kaum neoorthodox, pendekatan yang analitis itu diimbangi dengan pendekatan yang lebih bersifat sintetis.

c. Ditekankannya exegesis

Keyakinan akan kesatuan Alkitab membawa akibat yang penting dalam kegiatan-kegiatan gereja. Misalnya, khotbah-khotbah yang bersifat uraian Alkitabiah makin laku, --walaupun dalam prakteknya usaha untuk menghayati prinsip "berkhotbah secara Alkitabiah" kadang-kadang berjalan pincang. Dan terutama di kalangan-kalangan yang berbahasa Inggris, kaum neo-orthodox gagal dalam menemukan suatu metoda homiletik yang modern dan jelas, yang dapat mendasari usaha "berkhotbah secara Alkitabiah ' itu. Namun demikian, nampaklah suatu gerakan yang cukup berpengaruh, yang menuntut "khotbah-khotbah yang lebih bersifat Alkitabiah."

d. Keneo-orthodoxan dan gerakan oikumenis

Sementara itu gerakan oikumene merupakan salah satu pusat kegiatan gereja, dan dalam gerakan itupun ditekankannya secara baru Alkitab membawa effek yang cukup besar. Ditekankan bahwa Alkitablah yang merupakan unsur pokok yang dimiliki oleh semua gereja-gereja bersama, sehingga kalau gereja-gereja dan tradisi-tradisi Kristen dapat mempererat hubungannya dengan Alkitab, pastilah mereka akan merasakan keakraban yang lebih erat- satu sama lain. Memang diakui adanya perbedaan faham antara tradisi yang satu dengan tradisi yang lain, tetapi ada anggapan bahwa perbedaan-perbedaan yang demikian itu sebenarnya berakar dalam perbedaan latar-belakang kebudayaan, filsafat, atau unsur-unsur non-Alkitabiah yang lain-lain lagi, yang telah diambil alih oleh masing-masing tradisi dalam proses perkembangan-historisnya. Maka timbul pemikiran bahwa, kalau tradisi-tradisi itu dibandingkan dengan Alkitab, unsur-unsur non-Alkitabiah itu akan nampak sebagai unsur-unsur heterogen, dan sekali hal itu disadari, maka unsur-unsur itu akan terhapus atau sedikit-dikitnya akan ditundukkan kepada pola-pola yang sungguh-sungguh Alkitabiah. Dengan perkembangan yang demikian, pastilah gereja-gereja akan merasa lebih dekat satu sama lain. Jadi usaha untuk memupuk penafsiran Alkitab bersama merupakan untuk yang penting dalam program diskusi oikumene.

e. Keneo-orthodoxan dan soal-soal sosio-politis

Diskusi oikumenis meliputi berbagai soal sosio-politik yang menarik perhatian gereja-gereja. Di situpun ditekankannya kewibawaan Alkitab dianggap sebagai sumbangan positif, karena dengan ditekankannya hal tersebut agaknya kehidupan gereja Kristen menjadi lebih terbuka kepada dunia, yaitu kepada problem-problem manusiawi dan bendawi. Agaknya dengan demikian kaum Kristen akan menjadi lebih sadar akan realita-realita bendawi dan praktis, sedangkan pemusatan perhatian kepada soal-soal spirituil dan idiil melulu, akan berkurang. Perhatian terhadap persoalan-persoalan politis dan bendawi adalah merupakan unsur yang menarik dalam berita Alkitab. Maka oleh karena itu orang-orang Kristen dan gereja-gereja Kristen berpaling kepada Alkitab dalam mencari jawaban-jawaban atas persoalan-persoalan demikian. Ada usaha misalnya untuk menggariskan pandangan Alkitabiah terhadap pekerjaan sehari-hari, atau terhadap soal kesehatan, atau soal kenegaraan, sehingga pokok-pokok yang demikian itu diteliti secara cukup mendalam.

5. Kesimpulan

Maka dalam hal-hal yang demikian itu Alkitab pada periode sesudah perang agaknya sudah mendapat kembali kedudukan yang sentral di dalam gereja-gereja dan di dalam iman orang Kristen. Pada periode-periode sebelumnya kedudukan Alkitab telah mengalami kegoncangan, di bawah pengaruh pendekatan kritis-historis. Alkitab juga agak diabaikan pada periode teologia liberal. Bahkan beberapa sisa dari persoalan-persoalan yang telah timbul pada periode-periode itu belum terpecahkan. Tetapi pada prinsipnya, sentralitas-mutlak Alkitab dalam iman Kristen dan dalam kehidupan gereja sudah diakui dan diteguhkan. Pada periode sesudah perang, hampir tidak ada orang yang menyadari bahwa kedudukan Alkitab, yang nampaknya begitu teguh itu, akan menjadi goyang kembali. Bahkan persoalan-persoalan, yang tadinya dianggap sudah beres untuk selama-lamanya itu, tidak orang harapkan akan muncul kembali, malah muncul dalam rumusan yang lebih tajam lagi.

II. BEBERAPA TANDA-TANYA YANG DIAJUKAN BELAKANGAN INI


Keadaan yang saya gariskan di atas ini berlaku kira-kira sampai tahun 1960, maka mulai tahun enam puluhan itu iklim teologia mengalami perubahan yang cukup hebat. Pola teologia yang bersifat otoriter, yaitu yang mengutamakan konsep penyataan, dan terutama teologia yang nampak dalam gerakan neo-orthodox, telah kehilangan daya-gerak dan daya-rangsangnya. Apa yang disebut "teologia filosofis bertentangan dengan "teologia Alkitabiah," telah nampak berpengaruh kembali. Ide-ide, yang oleh kaum neo-orthodox dianggap termasuk liberalisme yang sudah usang, sedang diperbincangkan kembali. Kadang-kadang timbullah kesan seolah-olah revolusi keneo-orthodoxan itu dalam bidang teologia tidak pernah terjadi, melihat bahwa begitu banyak prinsip-pokok dari pada gerakan neo-orthodox itu disangkal atau diabaikan. Sebab-sebab perobahan yang demikian itu terletak di luar jangkauan uraian kita ini. Cukuplah kalau saya mencatat di sini beberapa pokok yang merupakan aspek-aspek dari perubahan iklim teologis ini, dan yang mungkin membantu kita melihat beberapa sebab, mengapa perobahan tersebut terjadi.

1. Persoalan-persoalan kritik-historis belum terpecahkan

Pokok pertama, ialah perasaan bahwa kita belum sungguh-sungguh mendalami persoalan-persoalan yang dihadapkan pada penyelidikan Alkitab oleh metode-metode riset modern, misalnya metode kritik historis dan metode perbandingan agama. Konsensus yang terdapat pada periode sesudah-perang memang mentoleransi metode-metode penyelidikan yang demikian, tetapi tidak mengijinkan metode-metode itu menentukan soal. Keneo-orthodoxan, kalau dinilai dalam terang keadaan sekarang, agaknya lebih dekat kepada konservatisme Alkitabiah dari pada yang dirasakan oleh para penganutnya pada waktu itu. Pada masa kini banyak ahli teologia beranggapan bahwa semua teknik-teknik penelitian yang ada harus diberi penilaian teologis yang lebih positif dari pada apa yang mungkin diberi di bawah norma-norma keneo-orthodoxan.

2. Betulkah Alkitab harus dibaca sebagai keseluruhan?

Kedua, timbul keraguan tentang kemutlakan dari pada prinsip bahwa Alkitab harus dibaca sebagai keseluruhan. Bahkan sekarang ada para ahli yang menekankan bahwa keanekaragaman dan perbedaan-perbedaan yang terdapat di dalam Alkitab merupakan ciri Alkitab yang lebih representatif dibandingkan dengan kesatuannya, bahkan merupakan pedoman yang lebih membantu dalam mencapai makna Alkitab yang sebenarnya. Usaha untuk menjadikan cara berpikir Ibrani sebagai kunci kesatuan Alkitab telah ditinggalkan. Kita telah mencatat di atas ini bahwa ditekankannya Alkitab sebagai keseluruhan, timbul sebagai reaksi terhadap pendekatan analitis. Maka pada taraf berikutnya lagi, menjelang periode sesudah-perang, perhatian para ahli kepada metode-metode penafsiran yang bersifat sintetis, membawa akhirnya kepada sesuatu yang agak mirip dengan harmonisasi yang kolot. Sehingga dalam rangka reaksi berikutnya, para ahli meninggalkan sintese itu dan kembali lagi kepada pendekatan analitis sebagai metode yang rasanya lebih segar. Maka kita menghadapi kenyataan bahwa pada masa kini para ahli memberi penilaian yang berlain-lainan kepada bagian-bagian Alkitab yang berlain-lainan. Perkembangan mutakhir ini cukup nampak dalam bidang Perjanjian Lama. Teolog-teolog neo-orthodox seperti Barth menganggapnya suatu aksioma bahwa Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru merupakan satu kesatuan dalam hal kewibawaannya. Barang siapa yang meragukan prinsip itu menyatakan diri tidak terikat lagi kepada tradisi Kristen yang historis, yang dibangun atas dasar para nabi dan para rasul. Sedangkan pada masa kini kita menghadapi kecenderungan untuk menilai Perjanjian Lama lebih rendah dibandingkan dengan Perjanjian Baru.

3. Reaksi terhadap Berkhotbah secara exegetis

Pokok ketiga ialah bahwa di sana-sini pada masa kini muncul reaksi-reaksi yang cukup tajam terhadap prinsip "berkhotbah secara exegetis." Ada seorang tokoh gereja yang berkata begini: "Saya sering berkhotbah tanpa nats, atau malah dengan menggunakan nats dari sumber non-Alkitabiah, misalnya dari Kierkegaard (atau dari surat kabar)."1 Menurut anggapan modern ini, tugas gereja ialah untuk menyatakan dengan tegas apa yang dipercayainya masa kini, bukan untuk menguraikan suatu nats yang dikutip dari dokumen kuna. Gereja tidak dapat berbicara dan tidak pernah berbicara berdasarkan sesuatu sumber kewibawaan di luar dirinya; maka kalau gereja merasa dirinya mempunyai sumber kewibawaan yang demikian, dia hanya seolah-olah menipu dirinya. Pembicaraan Kristen bertolak dari apa yang diyakini orang Kristen masa kini. Maka berdasarkan itulah gereja menganjurkan kepada orang lain, supaya mereka ikut menerima dan mengamini apa yang diyakini oleh gereja kontemporer. Dalam proses komunikasi yang demikian itu maka soal apakah titik-tolak harus berbentuk nats Alkitab sebagai sumber kewibawaan atau tidak merupakan persoalan yang tidak penting. Tokoh yang kita kutip di atas melanjutkan sebagai berikut: "Saya harus mengakui bahwa sikap yang menjiwai khotbah-khotbah saya pada masa kini adalah begini: 'Inilah pengertianku tentang letaknya soal. Apakah kamu juga tidak dapat mengikuti pengertian ini.'"

4. Persoalan-persoalan tentang exegesis di kalangan "oikumenis"

a. Reaksi terhadap pendapat bahwa "Alkitab merupakan landasan Kesatuan"

Dalam bidang diskusi oikumenis, Dewan Gereja-gereja sedunia telah menjadi sadar akan adanya rasa ketidakpuasan yang cukup tersebar, terutama antara ahli-ahli Alkitab, tentang cara Alkitab digunakan dalam paper-paper (kertas-kertas-kerja) penelitian oikumenis pada periode sesudah-perang. Bahkan pada puncaknya, rasa ketidakpuasan itu mengakibatkan suatu keretakan yang cukup mendalam antara ahli-ahli exegesis dan teolog-teolog oikumenis. Maka adanya keretakan itu merupakan sebab utama, mengapa Dewan Gereja-gereja sedunia memulai suatu penelitian oikumenis yang baru tentang kewibawaan Alkitab. Dokumen penelitian, yang disiapkan untuk merangsang riset itu, dapat dibaca dalam The Ecumenical Review no. 21 tahun 1969 halaman 135-166. Jelas dari dokumen penelitian tersebut bahwa para penyusunnya telah undur dari konsep bahwa hanya Alkitab yang merupakan unsur pemersatu, yang dimiliki bersama oleh gereja-gereja yang masih terpisah-pisah:

"Asumsi (anggapan) bahwa semua gereja memiliki Alkitab sebagai milik-bersama, merupakan konsep kabur, sebelum soal kewibawaan Alkitab dijelaskan; dan harapan bahwa usaha-bersama dalam bidang exegesis akan mengantar kita kepada pengertian-bersama tentang kebenaran Kristen, nampak sekarang sebagai harapan yang naif atau sedikit-dikitnya terlampau prematur (gegabah)."2

b. Diskusi tentang metode-metode hermeneutik

Salah satu faktor yang agaknya ikut menimbulkan keragu-raguan baru tentang status Alkitab ialah diskusi tentang hermeneutik atau metode-metode penafsiran Alkitab yang berlangsung hangat di kalangan teologis pada tahun limapuluhan dan enampuluhan. Penelitian tentang kewibawaan Alkitab yang dilangsungkan oleh Dewan Gereja-gereja sedunia itupun timbul dari penelitian yang mendahuluinya, yaitu penelitian diskusi mengenai hermeneutik. Karena dengan sendirinya pembahasan tentang hermeneutik menyangkut suatu penelitian tentang konsep kewibawaan Alkitab. Dan secara lebih umum, ditekankannya keanekaragaman dalam metode-metode menginterpretasikan Alkitab agaknya mengurangi harapan bahwa orang Kristen dapat bersandar begitu saja kepada kewibawaan Alkitab. Kalau soal ini dirumuskan secara sederhana, dapat dikatakan demikian: Alkitab memberi kesan yang lain kalau ditafsirkan menurut metode A dibandingkan dengan kesannya kalau ditafsirkan menurut metode B. Kalau demikian, bagaimana Alkitab itu sendiri dapat dianggap sebagai patokan yang menentukan? Tidak usah kita mengejar seluk-beluk diskusi itu: cukuplah kalau kita mencatat sebagai kenyataan historis bahwa diskusi tentang hermeneutik itu agaknya merupakan jalan yang membawa kepada keraguan tentang kewibawaan Alkitab seperti yang nampak di gereja masa kini.

5. Kesimpulan Sementara

Ditinjau dari berbagai segi, sebagaimana dibentangkan di atas ini, agaknya kita sudah kembali pada masa kini kepada suatu situasi, dimana status dan nilai Alkitab diragu-ragukan, dibandingkan dengan suasana periode sesudah-perang. Bahkan kita harus menghadapi kemungkinan bahwa keraguan yang kita alami sekarang ini akan menjadi suasana yang permanen. Selama periode, ketika kewibawaan Alkitab itu dijunjung tinggi, orang berkesimpulan bahwa pengakuan akan kewibawaan Alkitab itu merupakan keadaan yang normal, sehingga keragu-raguan tentang status Alkitab itu nampak sebagai suatu gangguan-sementara terhadap keadaan yang normal, keadaan yang sudah lazim. Tetapi pada kenyataannya, keyakinan akan kewibawaan Alkitab itu telah merosot kembali dengan cepat sekali. Maka timbullah pemikiran yaitu bahwa jangan-jangan sebaliknya, yakni keragu-raguan tentang status Alkitab itulah yang menjadi keadaan normal dalam kehidupan gereja modern.

6. Reaksi merupakan fenomena yang terbatas
Meskipun demikian, kita harus berhati-hati supaya jangan kita melebih-lebihkan pengaruh sikap kritis terhadap status Alkitab itu.

Ada beberapa pokok yang dapat kita catat:

a. Fenomena nampak terutama di kalangan yang berbahasa Inggris

Pertama, keragu-raguan tentang status Alkitab itu tidak merata di seluruh gereja internasional. Rumusannya yang paling radikal terdapat di kalangan-kalangan yang berbahasa Inggris, baik di Inggris sendiri maupun di Amerika Serikat. Menurut kesan saya, keragu-raguan terdapat juga antara para teolog di Eropa. Tetapi keragu-raguan di situ agaknya berkisar pada soal tentang cara mengartikan kewibawaan Alkitab itu. Sedangkan para teolog di kalangan yang berbahasa Inggris merumuskan pertanyaannya secara lebih radikal. Mengapa kita harus sampai mengaku kewibawaan Alkitab? Mengapa sampai koleksi kitab-kitab kuna ini dianggap lebih berpengaruh atau lebih berwibawa pada jaman modern ini, dibandingkan dengan buku-buku lain? Dan mengapa sampai konsep-konsep Alkitab dianggap lebih menentukan dibandingkan dengan konsep-konsep yang kita peroleh dari sumber-sumber lain, sumber kuna maupun sumber modern, yang tertulis maupun yang lisan? Kalau kita mencari akar-akar bertumbuhnya keragu-raguan yang radikal terhadap status Alkitab ini, mungkin dapat diusulkan yang berikut: Pertama, bahwa filsafat empiris (berdasarkan penyelidikan kenyataan) memang berpengaruh sekali di kalangan-kalangan yang berbahasa Inggris. Kedua, teologia neo-orthodox memang relatif sedikit berpengaruh di beberapa negara yang berbahasa Inggris, terutama di Inggris sendiri. Atau, kemungkinan ketiga, yakni bahwa dapat dikaitkan dengan fakta bahwa tradisi "khotbah exegetis" kurang berakar di gereja-gereja Inggris. Atau kemungkinan lain lagi yakni bahwa mungkin ada hubungannya dengan unsur-unsur kebebasan yang nampak dalam pola ilmu sosiologi yang laku di kalangan-kalangan yang berbahasa Inggris. Tak usah kita pilih salah satu dari antara sebab-sebab yang demikian. Pokoknya, soal yang diajukan ini patut mendapat jawaban yang tepat, biar bagaimanapun latar-belakang kebudayaan yang menimbulkannya.

b. Terbatas pada minoritas

Kedua, tak usah kita memberi kesan seolah-olah seluruh teologia di kalangan yang berbahasa Inggris telah tiba-tiba memberontak terhadap sentralitas Alkitab. Kesimpulan yang demikian itu sama sekali tak dapat dibenarkan. Kebanyakan teolog yang berpengaruh tidak ikut meragu-ragukan status Alkitab. Ternyata banyak teolog modern melangsungkan tugasnya dengan tidak mempersoalkan status Alkitab sama sekali. Bahkan salah satu kesulitan, yang kita hadapi dalam menyelidiki keragu-raguan mengenai status Alkitab ini, adalah justru bahwa keragu-raguan itu rupa-rupanya tidak mempunyai afiliasi (sangkut-paut) dengan salah satu teologia tertentu yang telah dirumuskan secara teliti. Keragu-raguan yang kita maksudkan ini dikemukakan hanya oleh beberapa ahli Alkitab, dan uraian yang mereka kemukakan itu belum terumus dengan seksama. Namun keragu-raguan itu tokh merupakan sesuatu yang terasa sekali di tengah keanggotaan gereja-gereja yang berbahasa Inggris. Keragu-raguan itu termasuk suasana jaman, suatu kecenderungan yang tersebar luas; maka suasana yang demikian pastilah mempengaruhi juga bagian-bagian besar dalam gereja yang masih mempertahankan sikap yang lebih tradisional terhadap Alkitab.

c. Terutama berpengaruh di antara generasi muda

Terutama di antara angkatan mudalah terasa keragu-raguan tentang Alkitab ini, termasuk pendeta-pendeta muda dan para mahasiswa. Timbul pertanyaan-pertanyaan seperti: Mengapa kita memberi begitu banyak waktu terhadap penyelidikan Alkitab? Sungguhkah Alkitab begitu relevan bagi kebutuhan kita masa kini? Apakah tidak lebih berguna, kalau kita langsung menyelidiki struktur masyarakat kontemporer, atau kecenderungan-kecenderungan dalam bidang filsafat modern, atau kalau kita ditawari kursus dalam bidang psikologi? Dari segala pihak, kedengaran laporan-laporan bahwa minat mahasiswa-mahasiswa teologia terhadap bidang Biblika sudah merosot, dan bahwa mereka lebih cenderung memilih bidang psikologi atau sosiologi. Kecenderungan yang demikian tidak terbatas kepada kalangan yang berbahasa Inggris saja, bahkan lebih menyolok lagi di beberapa negara di Eropa.

d. Bukan penolakan terhadap Alkitab

Pendek-kata, kita menyadari bahwa ada keragu-raguan yang sangat mendalam tentang tempatnya Alkitab dalam hidup dan iman gereja masa kini. Namun adalah merupakan suatu keterlaluan kalau kita katakan bahwa perasaan-perasaan yang demikian sampai merupakan suatu penolakan terhadap Alkitab, suatu penyangkalan terhadap nilai Alkitab itu. Memang kaum konservatif barangkali cenderung untuk mengatakan bahwa sikap radikal itu merupakan penolakan atau penyangkalan, tetapi ditinjau dari pihak peragu-peragu itu sendiri, sikap mereka itu terhadap Alkitab bukanlah sikap yang negatif melulu. Karena yang kita hadapi ini bukanlah suatu rumusan doktrin yang "menyangkali kewibawaan Alkitab," melainkan suatu suasana yang samar dan kabur.

7. Pokok-pokok ketegangan yang dirasakan

Jikalau kita berusaha menganalisa suasana tersebut, maka muncullah beberapa unsur sbb :

a. Persoalan tentang relevansi (perlunya) Alkitab

Problema-problema yang kita hadapi masa kini sangat berlainan sekali dibandingkan dengan problema-problema yang timbul pada jaman Alkitab. Bagaimana sampai bahan, yang timbul dalam situasi yang begitu berlainan, dapat menentukan sikap kita menghadapi problema-problema modern?

b. Persoalan tentang pengkomunikasian berita Alkitab

Ada terdapat perbedaan-perbedaan yang sangat mendalam antara kebudayaan dan cara-berpikir tokoh-tokoh Alkitab, dengan kebudayaan dan cara-berpikir kita. Kalau begitu, dapatkah diharapkan bahwa apa yang bermakna bagi mereka masih mengkomunikasikan makna yang sama kepada kita?

c. Persoalan tentang keterbatasan Alkitab

Alkitab merupakan suatu koleksi buku-buku yang terbatas jumlahnya. Ada unsur-kebetulan dalam proses penyeleksian (menyaring) koleksi itu, dan kitab-kitab tersebut berasal dari suatu periode yang terbatas dalam sejarah umat Tuhan secara keseluruhan. Kalau begitu dapatkah pengertian-pengertian yang tercapai pada periode yang terbatas itu mengikat kita secara mutlak, yaitu apakah pengertian-pengertian tersebut mengandung kewibawaan-yang lain jenisnya dibandingkan dengan kewibawaan yang terkandung dalam buku-buku lain yang berasal dari periode-periode yang lain?

d. Persoalan tentang "pengisolasian" bahan Alkitab

Dapatkah bahan Alkitab itu dipisahkan sebagai suatu bahan yang secara kwalitatif berlainan-mutlak, dibandingkan dengan faktor-faktor lain yang termasuk dalam proses pemikiran si Kristen atau dalam proses pemikiran gereja, bila harus diambil keputusan-keputusan tentang iman dan etika Kristen?

e. Persoalan tentang tanggung-jawab kita

Tugas gereja modern ialah untuk merumuskan dan memproklamasikan apa yang dipercayai pada masa kini oleh gereja dan oleh kaum Kristen. Tanggung-jawab itu dielakkan atau terkena distorsi (pemutar-balikan) kalau kita berkesimpulan bahwa tanggung-jawab kita yang utama ialah untuk menceritakan dan menafsir-ulang, yaitu untuk mendasarkan pikiran kita kepada keyakinan-keyakinan orang-orang dari jaman Alkitabiah itu.

8. Kesimpulan

Begitulah beberapa unsur dari keragu-raguan modern itu terhadap status Alkitab dalam kehidupan dan keimanan Kristen. Pada umumnya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan itu tidak merupakan penolakan-mutlak terhadap pandangan-pandangan tradisional mengenai Alkitab. Hanya kadang-kadang saja timbul konfrontasi-langsung dengan pendapat-pendapat tradisional itu. Kadang-kadang pertanyaan-pertanyaan baru itu menyoroti kelemahan-kelemahan dalam pandangan yang biasa. Tetapi acapkali pertanyaan-pertanyaan baru itu melangkahi rumusan-rumusan yang lama dari pada mengadakan konfrontasi-langsung. Itu berarti bahwa pusat seluruh persoalan ini sudah pindah. Itulah sebab-utama mengapa diskusi ini harus dimulai lagi. Adalah kurang berguna kalau kita hanya mengulang-kembali argumentasi-argumentasi yang dipakai waktu dulu. Argumen-argumen yang lama itu sudah dihafal oleh penanya-penanya modern. Maka justru karena itu timbullah frustrasi, dan keyakinan menjadi kendor, bila argumen-argumen yang lama itu hanya diulang-ulang saja, tanpa penerapan kepada situasi modern.

Sebagai kesimpulan dapat digambarkan situasi masa kini sebagai berikut: Ada terdapat di gereja-gereja sebagian besar anggota yang menilai tinggi status dan kewibawaan Alkitab. Tetapi meskipun demikian, mereka mengalami keragu-raguan juga mengenai status Alkitab. Bahkan keragu-raguan itu makin bertambah selama sepuluh atau lima belas tahun belakangan ini, sedang semangat yang nyata pada periode sesudah-perang itu menjadi semakin kendor. Di "sayap kiri" gereja ada terdapat kelompok yang lebih kecil tetapi yang berpengaruh besar, yang secara lebih aktif menyangsikan pengertian tradisional tentang status Alkitab. Sedangkan di "sayap kanan" ada terdapat orang-orang Kristen konservatif yang mempertahankan ajaran tradisional tentang Alkitab, dan yang nampaknya memberikan suatu kesaksian terang-terangan tentang kewibawaan Alkitab. Saya menyebut adanya "sayap kanan" itu, supaya gambaran yang kita peroleh tentang gereja modern menjadi lengkap. Tetapi saya pribadi berpendapat bahwa fundamentalisme dalam arti sempit, yaitu dalam arti sungguh-sungguh dogmatis-ketat, tidak merupakan suatu alternatif yang relevan untuk gereja masa kini.

Dalam mendekati persoalan-persoalan yang kita gariskan di atas ini, ada faedahnya, kalau di sini kita meninjau kembali beberapa konsep penting yang pernah dipakai dalam sejarah teologia gereja untuk menguraikan peranan Alkitab berhubungan dengan gereja dan si Kristen, dan dengan doktrin dan keimanan. Tinjauan-ulang ini akan kita usahakan dalam Pasal II.

Alkitab di Dunia Modern (The Bible in the Modern World)
Prof. James Barr
Terjemahan Dr. I.J. Cairns
BPK/8331086/7
Penerbit BPK Gunung Mulia, 1979
Kwitang 22, Jakarta Pusat

0 komentar:

Poskan Komentar